Minggu, 06 Januari 2013

kejujuran dan kebenaran

A. PENGERTIAN KEBENARAN
Terdapat beberapa definisi kebenaran, antara lain :
1. Kebenaran adalah sifat dari kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran menurutnya, merupakan hubungan tertentu antara kepercayaan dan fakta atau lebih diluar kepercayaan. Bila hubungan ini tidak ada kepercayaan itu adalah salah. Suatu kalimat dapat disebut “benar” atau “salah”, meskipun tak seorang pun mempercayainya, asal jika kalimat itu dipercaya, benar atau salahnya kepercayaan itu terletak pada masalahnya (Suriasmuntri, 1999:76)
2. Menurut Julienne Ford dalam bukunya yang berjudul Paradigms and Fairy Tales, menegaskan bahwa kebenaran memiliki empat makna yang berbeda.
Pertama, kebenaran empiric yang dikenal ilmuwan, suatu pengakuan hipotesis atau prediksi, suatu pengukuhan atau penolakan tentang sesuatu – sesuai dengan “alam” mengungkap apa ada nya.
Kedua, adalah kebenaran yang logis, suatu pengakuan (hipotesis atau prediksi) bila logis atau secara matematis konsisten dengan sejumlah pengakuan lain yang diketahui benar dalam pengertian kebenaran ini; atau keyakinan dasar yang dipakai kebenaran lainnya.
Ketiga, adalah kebenaran etis. Sesuatu diakui bila seseorang yang menyatakannya bertindak sesuai dengan moral atau kode etik profesinya.
Keempat, adalah kebenaran tempat kita paling berhubungan di sini, yang disebut kebenaran metafisik. Tidak seperti pada pengakuan kebenaran sebelumnya yang kebenarannya secara penuh dihubungkan dengan sejumlah norma di luar, seperti alam, logika, deduktif atau etika profesi.

B. TEORI KEBENARAN
1. Teori Kebenaran Korespondensi
Teori kebenaran korespondensi dikenal sebagai salah satu kebenaran tradisional, atau teori yang paling tua. Teori korespondensi merumuskan, kebenaran atau keadaan benar berupa kesesuaian antara makna yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan dan apa yang sunguh – sunguh merupakan halnya atau apa yang merupakan fakta – faktanya. Dalam pernyataan yang lebih jelas, sebuah statement dikatakan benar jika terdapat korelasi positif antara pernyataan dan kenyataan.
2. Teori Kebenaran Koherensi atau Konsistensi
Teori ini dikembangkan oleh Plato (427-437 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Teori koherensi atau konsistensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan atau proposisi dikatakan benar jika tidak bertentangan dengan hokum penalaran logis.
3. Teori Kebenaran Pragmatik
Pencetus teori ini adalah Charles. S. Peirce (1839-1914). Menurut teori pragmatic, sebuah teori dikatakan benar jika ternyata mendatangkan dayaguna yang positif. Contohnya adalah sebuah formula obat – obatan dikatakan benar kalau terbukti menyembuhkan sang pasien. Tetapi, kebenaran pragmatic ini hanya bersifat relative dan individual karena obat yang sama belum tentu berlaku bagi pasien lain.

C. SYARAT – SYARAT KEBENARAN BERITA
Sebuah berita bisa saja keliru atau dikelirukan, ini berarti kesalahan berita yang tercetak dalam surat kabar bisa terjadi karena keterbatasan wartawan, karena sifat – sifat manusiawi mereka, juga ada unsure kesengajaan. Ada banyak kemungkinannya, antara lain (Adinegoro, 1961), sebagai berikut:
1. Bagian penting dari berita itu dilenyapkan oleh wartawan yang berkepentingan supaya pembaca jangan mengetahuinya.
2. Bagian yang tidak penting dibesar – besarkan kepentingannya.
3. Melenyapkan sama sekali satu berita supaya tidak diketahui public dan menyiarkan satu berita yang bertentangan yang dianggap “menguntungkan”.
4. Memalsukan berita kejadian dengan membuat berita untuk sesuatu maksud tertentu.
5. Memakai cara yang tidak fair untuk menyesatkan anggapan pembaca terhadap seseorang atau sesuatu partai.
Kekeliruan berita, sesungguhnya mengakibatkan macam – macam kerugian antara lain:
1. Wartawan dan penerbitan persnya mendapatkan nama buruk di mata masyarakat.
2. Bisa mengacaukan sendi – sendi kehidupan bermasyarakat.
3. Wartawan atau penerbit persnya bisa dituntut ke pengadilan.
4. Sumber berita atau pihak – pihak yang terkait dengan pemberitaan itu dapat menderita kerugian.
5. Publik mendapat informasi yang salah sehingga pandangan mereka mengenai sesuatu hal juga menjadi salah.
6. Dalam hal pemerintahan masih memberlakukan surat izin terbit bagi penyelenggaraan penerbitan pers, pers yang seringkali melakukan kekeliruan tidak mustahil dikenakan pembredelan.
Usaha yang dilakukan yang dapat mendekati objektivitas kebenaran media antara lain “
1. Bersikap jujur.
2. Menghindari kata – kata opinionative.
3. Menumbuhkan aspek – aspek relevan.

D. PEDOMAN PELIPUTAN
1. Laporan – laporan yang ditujukan kepada masyarakat umum tidak boleh menyebuutkan secara pasti likasi, persimpangan jalan, sejumlah nama jalan sampai pihak yang berwenang mempunyai tenaga atau personel yang cukup untuk mengendalikan situasi.
2. Laporan seketika atau laporan langsung harus menghindari kesimpang siuran penafsiran mengenai desas – desus yang tengah berhembus, serta menghindari penggunaan pernyataan – pernyataan yang tidak jelas arah dan sumbernya.
3. Hindari laporan mengenai insiden – insiden yang remeh – remeh.
4. Para peliput yang berada ditempat yang situasinya eksplosif atau bisa meledak harus menghindari laporan atau wawancara dengan “para penghasut”.
5. Kepala – kepala berita dan siaran – siaran yang menghebohkan, serta bentuk – bentuk sensasi lainnya harus dihindari dalam majalah, surat kabar, radio dan televise.
6. Laporan – Laporan tidak boleh menggunakan kalimat – kalimat yang berlebihan, yang dapat menyulut konflik lebih luas, atau menyebabkan gangguan baru ditempat kekacauan.
7. Para peliput tidak boleh melaporkan secara rinci bagaimana suatu senjata diperoleh, dibuat atau dippergunakan.

KEJUJURAN
Jujur jika diartikan secara baku adalah “mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran”. Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.
TEORI KEJUJURAN
Teori Mulut
Analisis kasus
Teori luna maya
INDIVIDUAL DIFFERENCES THEORY (Teori Perbedaan Individual)
Nama teori yang diketengahkan oleh Melvin D. Defleur ini lengkapnya adalah “Individual Differences Theory of Mass Communication Effect”. Jadi teori ini menelaah perbedaan – perbedaan di antara individu – individu sebagai sasaran media massa ketika mereka diterpa sehingga menimbulkan efek tertentu.
Menurut teori ini individu – individu sebagai anggota khalayak sasaran media massa secara selektif, menaruh perhatian kepada pesan – pesan terutama jika berkaitan dengan kepentingannya, konsisten dengan sikap – sikapnya sesuai dengan kepercayaannya yang didukung oleh nilai – nilainya. Tanggapannya terhadap pesan – pesan tersebut diubah oleh tatanan psikologisnya. Jadi, efek media massa pada khalayak massa itu tidak seragam, melainkan beragam disebabkan secara individual berbeda satu sama lain dalam struktur kejiwaannya.
Anggapan dasar dari teori ini ialah bahwa manusia amat bervariasi dalam organisasi psikologisnya secara pribadi. Variasi ini sebagian dimulai dari dukungan perbedaan secara biologis, tetapi ini dikarenakan pengetahuan secara individual yang berbeda. Manusia yang dibesarkan dalam lingkungan yang secara tajam berbeda, menghadapi titik pandangan yang berbeda secara tajam pula. Dari lingkungan yang dipelajarinya itu, mereka menghendaki seperangkat sikap, nilai dan kepercayaan yang merupakan tatanan psikologisnya masing0masing pribadi yang membedakannya dari yang lain.
Teori perbedaan individual ini mengandung rangsangan-rangsangan khusus yang menimbulkan interaksi yang berbeda dengan watak-watak perorangan anggota khalayak. Oleh karena terdapat perbedaan invidual pada setiap pribadi anggota khalayak itu, maka secara alamiah dapat diduga akan muncul efek yang bervariasi sesuai dengan perbedaan invidual itu. Tetapi dengan berpegang tetap pada pengaruh variabel-variabel kepribadian (yakni menganggap khalayak memiliki cirri-ciri kepribadian yang sama) teori tersebut tetap akan memprediksi keseragaman terhadap pesan terrentu.






sumber : http://intanrizkilspr.blogspot.com/2010/04/kebenaran-dan-kejujuran-dalam-media.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar